Selasa, 05 Mei 2015

My secret

Hello Everyone!! I'm come back, yeah!

Today I want tell about my story, too many who want me to say, but this is my story.

I wonder where I would start a story, too much of that already I feel that what I feel that's also the experience of my life, but I learned from every experience I've been through. Here I believe to be a more mature both in attitude, the mind would also be deed. Not easy to live this life, this life is the life for me a very complicated for me to live too many challenges and obstacles that hinder me. But as time went on I met someone where he is part of my prayer also, because I prayed I would like to have someone who can I make as a friend and I wish he was a guy. Why guys? Because I want to, also can feel the beauty of friends or even a time when I could be her soulmate. In addition it turned out to vent with a guy much better than you vent with a girl, answer or solution that you accept whatever it will look different.

Don't forget this will turn again to ourselves each, to anyone we may confide but remember telling was the one who you believe and any answers or solutions that we receive, strain beforehand because there is of course also an answer or solution that you received can help you regardless of any stories that you tell. In the end my prayer was answered at God and I'm grateful. At the beginning we met it originated from me just to a friend's room and then because there is no work I was thinking to come to her room to ask for things that are not important. I've actually recognize him from our one Christian fellowship on campus. But we just know each other, or in other words you know me I know you. In fact, if it should be further acquainted like friends because they want to know each other.

The beginning of a difficult and strange when I begin to approach. Feels very awkward and stiff when start talking with him, I was in because it still has properties that bad when you first meet someone new. Shortly after it turned out he could find the atmosphere that initially looks very awkward and stiff. Long story short I was finally able to close and even in the short time he was the first to unfiltered he immediately assume and say I'm this match made in companions.

But it turns out what others say is true, if you had a friend a guy that can never be really you or he considers a friend forever. And it's true as time went on I liked him, but at the time I started to like him also immediately changed my attitude I started to love awkwardly and even I melt in an instant when he started to sing or he shows some works by him in making the lyrics songs.

Feeling that starts with liking can definitely end up with a sense of love. But I was trying to bury would guess that, because I also do not want the friendship which has started to be broken just because I like him, but he himself doesn't like me. Long story short it was not only my experience tells me that when I was chasing a love that is not possible I could get from people who are blind to my signal. Is my experience, or may have been past it hurts me? Yes very painful, on the one hand I had kept a profound expectations but on the other hand I did not want to be the one begging for love. More and more you chase me away that I used to feel.

But the past is only the past now I'm trying to get out of the past and start looking to the future to go ahead and move on. When I like people have become my best friend, he was also was like someone who turns out to be my own friend who also stayed one rental home with us. At first I was just introducing them mediocre, but time is running very fast. When they were finally going out, I have said before that my heart also to him. But alas, I wasn't her type and anyways I was only fit to be her friend.

Well that's the story of the love that I've been through so alone. But I always hope one day I can find my true love and when I have to get the right person I hope my love story with a happy ending can be. Then why I had said that life is hard? Because I have to live this life with a process that I enjoy are too long. Challenges and obstacles sometimes can not be run in accordance with the commitment, even 24 hours cann't be organized with maximum.

But finally I was made aware that life is not difficult to live. Just enjoy your life, enjoy the existing process. But remain always focused and remember what the priorities. The focus doesn't mean you will run in one direction only, but the focus of the course but a lot depends on you that determines the direction. I learned the hard way that I cannot always count on others to respect my feelings, even if I respect theirs. Being a good person doesn't guarantee that others will be good people. You only have control over yourself and how you choose to be as a person. As for others, you can only choose to accept them or walk away.

Minggu, 05 April 2015

Beautiful story

Ini kisah ku, berawal dari keinginan besar ku yang sebenarnya itu tidak harus menjadi yang utama, namun bagiku itu lah yang utama.

Selama aku menjalani kehidupan terkhusus-nya selama semester 7 ini, aku banyak melewati dan mengalami roda kehidupan yang berganti mulus dan tidak mulus. Namun aku bersyukur untuk hal itu, Pada saat ini aku boleh bersyukur berkat dan pimpinan Tuhan masih menuntun dan membimbing ku hingga saat ini, aku boleh belajar bagaimana aku harus bisa bertahan melewati serta menjalani kehidupan yang berat apalagi kehidupan yang lebih sulit karena tinggal di luar kota. Di satu sisi bahagia karena aku dapat belajar bagaimana harus mandiri dan mengatur diri sendiri dengan lebih baik serta belajar untuk mau bertumbuh dan berkembang menjadi lebih dewasa serta mau dibentuk untuk berpikir secara kritis.

Tidak mudah untuk mampu bersosialisasi dengan baik di lingkungan yang berbeda, tapi bagi ku ini adalah pembelajaran yang harus aku pelajari jika aku mau maju. Satu hal yang aku bisa rasakan yaitu dengan kehadiran kelompok KTB (kelompok tumbuh bersama) yang telah kami bangun sejak awal masuk perkuliahan dan juga komunitas yang baik yang mendukung serta membangun pribadi ku hingga seperti ini. Aku sadar tidak mudah dan tidak gampang aku bisa bertahan serta mencari komunitas yang cocok, tetapi Tuhan membantu mengarahakan padaku memberikan aku petunjuk jalan agar aku bisa tetap lurus kepada jalan yang Tuhan kehendaki bagi ku.

Kisah demi kisah juga mulai aku bangun dan bentuk satu per satu. Hingga kini kisah demi kisah tersebut tidak bisa ku lupakan, karena bagi ku kisah demi kisah yang aku tulis dan yang aku gambar itu merupakan kisah yang memiliki sebuah kenangan yang terindah. Mungkin itu ada yang menyakitkan, membuat aku kecewa atau dikecewakan tetapi apa pun itu aku tetap bersyukur sudah boleh mengalami-nya. Satu demi satu kisah aku coba untuk mengingat dan berpikir andai saja itu bisa diulang aku mau berada dengan mengubah-nya menjadi sebuah kisah yang lebih bagus.

Kisah ku adalah pengalaman ku dan itulah membuat aku untuk belajar dari kisah-kisah yang telah terjadi agar ke depannya aku tidak jatuh di kisah yang sama. Satu kisah atau peristiwa yang membuat bagi ku ini adalah suatu kisah yang dahsayat yaitu, saat aku pergi bersama dengan dosen yang juga adalah pembimbing KTB ku, tidak jauh dari bulan ini awal bulan desember aku diajak untuk menemani beliau mempimpin khotbah di sebuah perusahaan. Disini aku melihat campur tangan Tuhan bekerja mengatur setiap rencana-rencana yang kami sebagai manusia buat namun belum di kehendaki oleh-Nya.

Awal keberangkatan kami terasa sangat lama karena macet dan sempat binggung akan alur-alur jalan yang diberikan. Aku membantu untuk mengarahkan meskipun aku sempat beberpa kali salah dalam mengarahkan jalan, namun pada akhirnya kami dapat tiba di lokasi dan Beliau pun juga masih mendapatkan kesempatan untuk mempimpin khotbah di perusahaan tersebut. Setelah semua selesai termasuk kami juga sempat makan siang bersama, akhirnya kami pun pulang dan inilah yang terjadi.

Dimulai dengan berpengang pada GPS yang ada smartphone ku, hingga akhirnya berpindah ke smartphone Beliau. Didalam perjalanan hujan badai datang menyerbu lalu membuat kami menjadi terhenti dan tidak fokus pada arah jalan disekitar jalan-jalan tol, kemudian Beliau pun mengambil jalan yang membawa pada kejadian yang bisa dibilang ini akan menjadi kejadi terindah yang pernah aku dan Beliau alami. Singkat cerita kami pun terjebak kemacetan panjang dan yang lebih parah kami terjebak di jalan-jalan yang terkena banjir karena hujan yang turun sangat-sangat deras, lalu kemudian belum sempat kami mendapat tempat yang agak tinggi untuk menepi sebentar air perlahan demi lahan masuk ke dalam mobil dan membuat kami sempat panik.

Namun didalam kepanikan yang kami alami itu tidak membuat kami menjadi hopeless menjadi pasrah begitu saja, segala cara mulai dikeluarkan di coba hingga akhirnya air di dalam mobil bisa di keluar kan sedikit demi sedikit. Pengalaman terindah yang pernah ada bagi ku jangan pernah tinggal terlalu lama di kepanikan yang kita alami, cobalah untuk tenang sejenak kalau perlu berdoa sejenak minta Tuhan memberikan hikmat agar kita bisa tahu juga langkah apa yang harus ambil di tengah-tenagh kepanikan yang kita alami. Pelajaran kedua yang bisa aku dapatkan adalah jangan pernah berdiam jika mengalami kebinggungan gunakan mulut untuk bertanya dan rendah hatilah dalam bertanya pada orang-orang mungkin akan merespon jawaban kita dengan kata-kata yang tidak enak.

Melihat masalah dan kejadian seperti ini aku melihat rencana yang sebelumnya telah diatur dengan baik namun jika tidak di kehendaki oleh Tuhan kita sebagai manusia harus bisa menerima dengan hati yang ikhlas.

Jumat, 06 Maret 2015

John's Piper book "Doctrine Matters"

<< Summary >>

What does it mean for God to be who he is?

Here are ten points:

God’s absolute being means he never had a beginning. This staggers the mind. Every child asks, “Who made God?” And every wise parent says, “Nobody made God. God simply is. And always was. No beginning.”
God’s absolute being means God will never end. If he did not come into being, he cannot go out of being because he is being. He is what is. There is no place to go outside of being. There is only he. Before he creates, that’s all that is: God.
God’s absolute being means God is absolute reality. There is no reality before him. There is no reality outside of him unless he wills it and makes it. He is not one of many realities before he creates. He is simply there as absolute reality. He is all that was eternally. No space, no universe, no emptiness. Only God. Absolutely there. Absolutely all.
God’s absolute being means that God is utterly independent. He depends on nothing to bring him into being or support him or counsel him or make him what he is. That is what the words “absolute being” mean.
God’s absolute being means rather that everything that is not God depends totally on God. All that is not God is secondary, and dependent. The entire universe is utterly secondary. Not primary. It came into being by God and stays in being moment by moment on God’s decision to keep it in being.
God’s absolute being means all the universe is by comparison to God as nothing. Contingent, dependent reality is to absolute, independent reality as a shadow to substance. As an echo to a thunderclap. As a bubble to the ocean. All that we see, all that we are amazed by in the world and in the galaxies, is, compared to God, as nothing. “All the nations are as nothing before him, they are accounted by him as less than nothing and emptiness” (Isaiah 40:17).
God’s absolute being means that God is constant. He is the same yesterday, today, and forever. He cannot be improved. He is not becoming anything. He is who he is. There is no development in God. No progress. Absolute perfection cannot be improved.
God’s absolute being means that he is the absolute standard of truth and goodness and beauty. There is no law-book to which he looks to know what is right. No almanac to establish facts. No guild to determine what is excellent or beautiful. He himself is the standard of what is right, what is true, what is beautiful.
God’s absolute being means God does whatever he pleases and it is always right and always beautiful and always in accord with truth. There are no constraints on him from outside him that could hinder him in doing anything he pleases. All reality that is outside of him he created and designed and governs as the absolute reality. So he is utterly free from any constraints that don’t originate from the counsel of his own will.
God’s absolute being means that he is the most important and most valuable reality and the most important and most valuable person in the universe. He is more worthy of interest and attention and admiration and enjoyment than all other realities, including the entire universe.



John Piper, - Doctrine Matters

Rabu, 18 Februari 2015

Belajar dari kepemimpinan ahok

Bangsa kita dilanda oleh kelangkaan pemimpin yang berkualitas. Akibatnya kita diperhadapkan pada banyak masalah yang tidak terselesaikan yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Misalnya ketidakmampuan mengontrol harga kebutuhan masyarakat sehingga daya beli masyarakat semakin berat, pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia yang masih terus terjadi, krisis lingkungan dan krisis energi, tragedi pengangguran dan konflik hubungan industrial yang tak kunjung terselesaikan, letupan kekerasan antar kelompok yang tidak terduga-duga, rasa aman masyarakat yang terancam setiap waktu, korupsi yang telah mengakar kuat seolah telah menjadi budaya, pelecehan terhadap hukum dan konstitusi, penyalagunaan dan perdagangan narkoba yang semakin mengkuatirkan, dll.
Banyak orang yang mengetahui dan memperingatkan tentang masalah ini tetapi hanya sedikit yang menawarkan cara-cara penanggulangannya. Perencanaan, pengetahuan dan teknik kita berlebihan tetapi yang kurang adalah kearifan dan hikmat dalam eksekusi. Akibatnya masyarakat menjadi skeptik, teralienasi dan panik. Rakyat ibarat ‘domba tanpa gembala’, sementara pemimpin kita kebanyakan tampil seperti ‘si buta yang menuntun orang buta’.
Di semua bidang terjadi krisis kepemimpinan yang tidak tanggung-tanggung. Bukan hanya pemimpin politik dan bisnis tetapi juga melanda institusi agama. Mereka terjebak dalam degradasi moral yang sangat dalam. Mereka seakan tak bisa lagi membedakan antara tangan kiri dan tangan kanan. Berjalan tanpa panduan selain mementingkan diri sendiri.
Adalah Bennie E. Goodwin mengungkapkan bahwa penyebab terjadinya krisis kepemimpinan di dunia ini karena, ‘banyak pemimpin yang hanya dilahirkan tetapi sedikit yang digembleng’. Sementara hal senada diungkapkan  Shakespeare bahwa, ‘Banyak pemimpin yang besar karena warisan/dilahirkan besar sedangkan pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang memiliki intelek, watak dan kepribadian yang kuat sebagai bawahan. Artinya pemimpin yang memadukan antara kualitas alami dan kualitas spritual’.
Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok atau Zhong Wan Xie, hadir memberikan angin segar di tengah krisis kepemimpinan yang melanda bangsa ini. Ia tidak memilih pasrah, menunggu keadaan membaik dengan sendirinya melainkan mengambil inisiatif. Ia mengambil prakarsa membuka jalan yang dapat diikuti oleh orang lain untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Walaupun di awal kehadirannya dipandang sebelah mata tetapi perlahan ia menunjukkan kinerja dan pengabdian yang tidak tanggung-tanggung, membuat mata kita terbelalak dengan kagum.
Dalam diri Ahok tercermin kepemimpinan yang memiliki visi jauh ke depan untuk merubah Indonesia lebih baik dan lebih bermartabat. Ia mengejarnya dengan dedikasi yang tinggi, kerja keras, disiplin dan ketekunan sebagai wujud pengabdiannya untuk bangsanya. Walaupun banyak tantangan yang dihadapinya tetapi ia maju tanpa kegentaran.
Ahok juga adalah pemimpin yang tidak mudah dilunakkan selain demi kepentingan kebenaran. Ia berdiri di semua golongan, menegakkan konstitusi, tidak diperbudak oleh uang dan menghargai atasannya.
Ahok berani tampil ‘marah’ di tengah apatisme dan kepasrahan rakyat kecil atas perilaku buruk pemimpinnya. Ia dengan berani menolak dengan mentah-mentah  semua hal yang tidak boleh diaminkan. Menentang hal-hal yang tidak benar tanpa kompromi. Ia meluapkan amarahnya dengan bertindak secara positif untuk memperbaiki hal-hal yang menimbulkan amarah kita. Yang hanya sering kita protes dalam kebisuan dan pesimisme.
Mengutip ungkapan George F. Will pada bulan Desember 1981, sesudah pengumuman darurat di Polandia yang mengatakan ‘Amarah kita meluap justru karena ketiadaan amarah orang-orang. Tetapi amarah sejati yang memprovokasi kita untuk bertindak secara positif’. Itulah yang dilakukan oleh Ahok yang marah dengan ‘jurus mabuknya’ sebagaimana sebutan banyak orang demi kepentingan rakyat, bangsa dan Negara. Ia ‘marah’ di tengah bangsa yang tidak banyak yang berani ‘marah’.
Akhirnya kita perlu belajar dari cara  Ahok memimpin. Memimpin tanpa pamrih menempuh jalan penuh resiko, menegakkan kebenaran, tanpa tedeng aling-aling melayani rakyatnya. Semoga yang Maha Kuasa senantiasa memeberikan kekuatan dan semangat yang selalu baru, sehingga Ahok mengakhiri ‘pertandingan’ dengan baik dan mencapai garis akhir. Sukses selalu.

Selasa, 09 Desember 2014

QUANTITY VS QUALITY – WHO WINS?

One can say a lot of things about digital advertising but one thing is for sure, it’s truly a numbers game. A while ago we looked at acronyms that rule the digital advertising landscape. Back then the acronyms were related to advertisers and publishers, two important players. Today it’s time to look at another digital advertisers’ favorite: CPM.
The CPM metric can best be described as the price that advertisers pay per 1000 page impressions. The higher the CPM, the more money the publisher will earn for every 1000 page views. You see why this acronym is a rather important one.
Even though CPMs are an important metric it is a rather flaky one at the same time,  and tend to fluctuate greatly. Moreover the metric has come into criticism recently, since its prices is based on amount of impressions, and therefore values quantity higher than quality. Critics highlight that measuring only impressions leaves out an important factor. This factor is engagement. Naturally this is a concern that is often highlighted on the advertiser site of the game. If an advertiser only pays based on impressions an advertiser potentially ends up paying for impressions that have never seen their ad consciously, nor even subconsciously. CPM only gives insights into how many see an ad but not about their level of engagement. You for example, you are part of a CPM when you read content online. Yes, you are pretty much one millionth of a CPM. But do you see the ads that are served on various sites? Did this post come with a picture? Which ad was in the picture? Did you click the ad? By thinking about our own online behavior we gain insights into the shortcomings of CPM as a measurement model.
Related to this is something that at a first glance only seems remotely connected. The strong need to understand each impression in great detail.This means for example that it becomes important not only from which location, but also from which type of location a publisher is offering them to bid on an impression. The players are basically profilers that gather all the information about a single impression (or user) and create a profile. They know where he went and what kind of products he is interested in. This might sound creepy at first, but is important to know if we want to offer a relevant service for the consumer and increase viewability at the same time. And this is where we come full circle back to where we started: CPM.
In order for publishers to earn better CPMs it is important that each of the impressions are profiled and understood in order for advertisers to offer their services for consumers with the highest interest. This in the end creates a win-win-win situation that we so love. In fact it’s pretty much like buying shoes. One can either buy a million cheap shoes or less and more expensive shoes. Chances are the more expensive shoes will last longer. What do you think? Will impression quality be the dominant force in digital advertising?

Sabtu, 29 November 2014

Pemimpin yang memimpin


Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu sosial, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia. Orang-orang memiliki presepsi bahwa kita memiliki kompetensi/kemampuan yang lebih tinggi atau pengalaman yang lebih banyak sehingga dipilih menjadi pemimpin dipilih menjadi pemimpin (kebudayaan Indonesia) sehingga memberi perlakuan istimewa kepada pemimpin, kebutuhannya yang didahulukan dan keinginannya dinomorsatukan.
Pakar kepemimpinan John Gardner mengungkapkan bahwa ketika Amerika didirikan pada 1776 dengan sekitar tiga juta penduduk, negara tersebut memiliki enam pemimpin kelas dunia : George Washinton, John Adams, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, James Madison dan Alexander Hamilton. Pada tahun 1987 dengan populasi lebih dari 240 juta penduduk, Amerika seharusnya memiliki 480 pemimpin kelas dunia. Namun dimanakah mereka?  Para kepala institusi tersebut tidak tepat disebut “pemimpin” karena sebagian besar mereka tidak melakukan fungsi kepemimpinan sebagaimana mestinya.


Kepemimpinan tidak identik dengan  posisi, kepemimpinan adalah sebuah fungsi. Robert Greenleaf menulis bahwa kualitas kepemimpinan sebuah bangsa dapat diukur dari kondisi masayarakat yang berada di lapisan paling bawah, yang marjinal dan minoritas. Riset menunjukkan bahwa etika bisinis seringkali hanya menjadi retorika manis di bibir karena para pemimpin perusahaan bertindak tidak etis dalam relasinya dengan para pegawai, pelanggan, pemegang saham dan publik secara luas.

Silahkan kunjungi : Purpose driven leadership and how it is transforming suntrust

Ada empat dasar kepemimpinan efektif, yaitu:
  • Penentuan tujuan
Seorang pemimpin harus memastikan dari awal bahwa semua anggota teamnya memahami maksud dan tujuan organisasi. Sebagai seorang pemimpin dia harus mengetahui apa yang menjadi visi dan misi dari organisasi/ perusahaan tersebut yang juga mendasari dari masing-masing anggota. Tanpa mengetahui apa yang menjadi visi dan misi makanya seorang pemimpin akan kehilangan arah dan tujuan dari organisasi/ perusahaan. Tidak hanya pemimpin namun anggota team juga akan mengalami kehilangan arah dalam memacu roda organisasi.

  • Komunikasi
Seorang pemimpin harus bisa berkomunikasi dengan anggota team-ny dengan melalui media yang bisa digunakan. Tetapi seorang pemimpin juga harus bisa melihat cara berkomunikasi yang efektif selain menggunakan media, bertemu dengan team dan memastikan setiap anggota teamnya memahami apa yang dikomunikasikannya tersebut.

  • Kepercayaan
Komunikasi yang efektif didasari dengan adanya saling percaya antara pihak-pihak yang terlinat dalam komunikasi tersebut, dalam hal ini pemimpin dengan bahawannya. Kemudian penentu arah tujuan juga sudah menjadi komitmen bersama dan menjadi kepercayaan. Sehingga bahawan juga bisa menjadi percaya keapad pemimpin.

  • Akutanbilitas (pertanggung jawaban)
Akutanbilitas adalah proses di mana seorang individu atau sebuah institusi mampu mempertanggungjawabkan setiap aksi yang mereka lakukan dan setiap konsekuensi yang ditimbulkan oleh aksi tersebut. Semakin tinggi posisi pemimpin dan semakin penting peran pemimpin, semakin besar juga lingakaran pengaruh yang ia miliki dan yang kepadanya ia harus akuntabel. Mampu membuka diri terhadap orang lain terutama yang berada di lingkaran pengaruhnya karena tanpa membuka diri maka dia tidak akan bisa mempertanggungjawabkan sesuatu dan akan berjalan dengan terpaksa, tidak tulus serta superfisial.

Dalam bisnis seorang pemimpin perusahaan harus bisa memilih mana yang akan dijalankan perusahaannya. Demikian pula dalam kepemimpinan negara, sangat dibutuhkan kemampuan serta dapat mengambi keputusan tepat dan berani. Tanpa memilih dan mengambil keputusan maka akan sulit juga dalam menentukan masa depannya.
Ketika memimpin, seorang pemimpin juga harus menegaskan perannya sebagai pimpinan. Karena peran pemimpin sangat perlu juga diketahui oleh anggotanya. Kepemimpinan juga tentu akan berbeda dalam setiap masa. Mengapa demikian? Karena faktanya bahwa arus globalisasi dan teknologi informasi sekarang begitu cepat, kita bahkan dengan mudah apa yang terjadi diluar negeri atau di tempat lain.

Sumber : icalbakrie

Minggu, 23 November 2014

Just share : Entrepreneurial Leadership Ahok Way

[Free] Premium Course : Entrepreneurial Leadership Ahok Way dibit.ly/uceoher-ahok
Daftar kuliah Entrepreneurial Leadership Ahok Way dibimbing langsung oleh Bpk. Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta. 
Kuliah ini gratis, dan semua materi diberikan secara online.
Kuliah ini telah dapat di ikuti dan telah dilaunching oleh Pak Ahok pada hari Jumat, 21 November 2014

‪#‎AhokWay‬ ‪#‎uceo‬ ‪#‎ciputra‬ ‪#‎ciputrauceo‬ ‪#‎startup‬ ‪#‎entrepreneurship‬‪#‎leadership‬ ‪#‎uc‬ ‪#‎ahok‬ ‪#‎btp‬


Kuliah ini berusaha untuk mengali dari cara kepemimpinan dari Bapak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang juga memiliki unsur Enterprenuer. Disini kita semua dapat mempelajari tentang bagaimana caranya membangun kepercayaan publik. Selain itu kita juga dapat belajar akan prinsip-prinsip pememerinthaan untuk mewujudkan keadilan sosial dan pentingnya akan intergritas dalam pemerintahan dan kepemimpinan didalam menjalankan suatu organisasi. Tidak hanya itu kita juga mendapatakan inspirasi yang membantu kita dalam memberikan sebuah motivasi daan tantangan dalam masyarakat modern.

Belajar menjadi seorang pemimpin tidak hanya belajar dari orang lain namun kita juga bisa belajar bagaimana kita belajar memipin diri kita sendiri sebelum akhirnya kita memimpin akan orang lain. Di pembelajaran secara online ini tidak hanya Bapak Ahok yang akan membimbing tetapi juga dari Bapak Sen Sendijaya yang akan membagikan materi yang terkait tentang kepemimpinan yang efektif, konviksi, visi, intergritas dan akuntablitas.

Lalu kemudia akan ada juga Bapak Tony Antonio selaku Rektor dari Universitas Ciputra dan Bapak Antonius Tanan yang akan membagikan materi terkait dengan kepemimpinan dan intergritas di dunia bisnis serta bagaimana menentukan visi pribadi juga bagaimana melatih dan menumbuhkan kreatifitas dalam diri.

Selengkapnya silahkan juga buka di : http://www.ciputrauceo.com/?utm_source=UMCNov2014&utm_medium=Hernote&utm_campaign=CampNov14

Advertise